merogoh keheningan
potongan kata berserakan
di lantai permainan
embanting lamunan seenaknya
menussuara lemah,bergairah
muk titik pusat kesadaran
dengan bibir molek yang penuh madu
akulah puisimu
yang pasrah dan rindu
melewati liku hari dan malam
dengan debur ombak
janganlah terburu kaupetik
syairku belum masak
dan baitku masih lemah
menahan serbuan angin dan badai
biarkan aku berkembang
aku perlu ruang
"tuk membaca sanubari
yang berteduh di dangau sawah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar