Rabu, 03 Juni 2009

puisi

Tafakur malam menyelam
merogoh keheningan
potongan kata berserakan
di lantai permainan

embanting lamunan seenaknya
menussuara lemah,bergairah
muk titik pusat kesadaran

dengan bibir molek yang penuh madu

akulah puisimu
yang pasrah dan rindu
melewati liku hari dan malam
dengan debur ombak

janganlah terburu kaupetik
syairku belum masak
dan baitku masih lemah
menahan serbuan angin dan badai

biarkan aku berkembang
aku perlu ruang
"tuk membaca sanubari
yang berteduh di dangau sawah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar